Bung Karno sebagai Simbol Persatuan Bangsa

Bahwa Bung Karno adalah pendekar persatuan bangsa telah dibuktikan oleh perjuangannya sejak muda, ketika ia ditahan oleh pemerintah kolonial Belanda di Endeh (Flores) dan kemudian di Bengkulu, sampai dikumandangkannya Proklamasi 17 Agustus. Dengan kecerdikan siasatnya, ia juga telah berhasil menggunakan kesempatan pendudukan Jepang untuk meneruskan perjuangannya dalam menggalang persatuan dan menggugah kesadaran bangsa.

Setelah menjabat sebagai kepala negara (presiden) pun, Bung Karno telah berulang kali menunjukkan sebagai satu-satunya pemimpin Indonesia, yang dengan gigih, konsekwen, tulus, dan sepenuh hati mengabdi kepada persatuan bangsa dan kepentingan rakyat banyak (tentang soal ini ada catatan tersendiri). Sampai akhir hayatnya, sikap ini tetap dipertahankannya, walaupun menghadapi kesulitan-kesulitan yang amat besar bagi dirinya sendiri, dan bagi keluarganya.

Dalam kaitan ini, patutlah kiranya diulangi dalam tulisan ini apa yang diutarakan oleh Ibu Megawati Soekarnoputri dalam pidatonya selaku Ketua Umum PDI-P ketika kampanye pemilu tahun 1998. Dalam akhir pidatonya itu ia mengutip kembali pesan (wasiat) ayahnya, Bung Karno, sebagai berikut:

    ”Anakku, simpan segala yang kau tahu. Jangan ceritakan deritaku dan sakitku kepada Rakyat, biarkan aku yang menjadi korban asal Indonesia tetap bersatu. Ini aku lakukan demi kesatuan, persatuan, keutuhan dan kejayaan bangsa. Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan Rakyat dan di atas segala-galanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa”. (kutipan habis).

Saudara-saudara para pembaca sekalian! Marilah sama-sama kita renungkan dalam-dalam dan dengan hati yang jernih, arti besar pesannya itu. Bung Karno, yang pernah memimpin perjuangan bangsa puluhan tahun, harus menderita dan menanggung kesakitan atau kepedihan hati pada akhir hidupnya, demi keyakinannya yang teguh, yaitu : mempersatukan bangsa. Ia menderita dalam kepedihan, namun, ia mengatakan “Biarkan aku yang menjadi korban asal Indonesia tetap bersatu”. Alangkah agungnya makna kalimat ini!. Demikian juga kalimatnya yang berbunyi :”Ini aku lakukan demi kesatuan, persatuan, keutuhan dan kejayaan Indonesia”. Alangkah dan megahnya jiwa yang berdiri di belakang kalimat ini!

Sekarang ini, seandainya Bung Karno bisa hidup lagi, alangkah besarnya kekecewaannya ketika ia melihat bahwa pengorbanannya itu telah sia-sia saja selama lebih dari 32 tahun. Pastilah ia akan menangis menyaksikan bahwa persatuan bangsa sedang terkoyak-koyak dan keutuhan bangsa juga tercabik-cabik. Dan alangkah sedih hatinya bahwa kejayaan bangsa yang diidam-idamkannya dan diperjoangkannya sejak muda sampai alkhir hayatnya, sedang makin menjauh, gara-gara sistem politik dan praktek-praktek Orde Baru/Golkar selama puluhan tahun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: