Bung Karno Kampiun Terkemuka

Tidaklah berkelebihan bila dikatakan bahwa Bung Karno adalah juru pemersatu yang paling unggul dan yang paling kampiun dari bangsa Indonesia. Beliau memiliki keyakinan yang begitu konsisten, bahwa bila bangsa kita hendak mencapai kemerdekaan yang dicita-citakan, maka bangsa ini, pertama-tama harus siap melakukan perjuangan yang sulit dan panjang. Selain itu, masih ada satu faktor yang amat fundamentil yang perlu dipenuhi untuk tercapainya tujuan mulya itu, yaitu masalah persatuan.

Beliau amat menyadari bahwa perjuangan yang panjang dan penuh kesulitan itu, tidak akan mencapai hasil bila hal itu dilakukan hanya oleh segolongan saja dari bangsa ini. Tidak akan mencapai tujuannya bila hanya dilakukan oleh satu atau beberapa organisasi perjuangan atau partai politik. Perjuangan untuk kemerdekaan bangsa dan negeri harus dilakukan dengan keikutsertaan semua kekuatan bangsa yang digabungkan dalam satu kekuatan nasional yang maha besar. Perjuangan yang beliau lakukan untuk kemerdekaan Indonesia, sekaligus merupakan perjuangan untuk mempersatukan seluruh kekuatan bangsa melawan penjajahan Belanda. Bung Karno memandang perjuangan untuk kemerdekaan nasional sebagai suatu proses yang menyatu dengan perjuangan untuk pembinaan nasion Indonesia.

Bahwa partai politik yang didirikan oleh Bung Karno, bukan suatu partai politik yang didasarkan atas agama, atau suatu partai yang didasarkan atas suatu ajaran ilmu sosial tertentu, suatu isme tertentu, misalnya Marxisme, hal itu bukanlah sesuatu yang kebetulan. Beliau berkeyakinan diperlukan suatu wadah dan dasar yang sesuai untuk bisa mencapai tujuan mempersatukan seluas mungkin potensi perjuangan yang ada di dalam masyarakat. Itulah sebabnya, mengapa partai politik yang beliau dirikan adalah Partai Nasional Indonesia. Menyadari keanekaragaman Indonesia dari segi etnis dan kultur, serta luas dan masalah jarak dan lautan yang merupakan kendala bagi komunikasi yang normal dsb., maka jelas kiranya, mengapa Bung Karno ketika memulai perjuangan politik, pertama-tama menitik beratkan perhatian dan usaha beliau a.l. pada masalah p e m b a n g u n a n n a s i o n Indonesia. Membangun nasion Indonesia, dengan mendidikkan pemahaman terhadap sejarah bangsa sendiri, dengan senantiasa memperbesar rasa cinta dan tanggungjawab setiap manusia Indonesia pada tanah air dan bangsanya. Dengan membangun rasa patriotisme pada masyarakat, khususnya pada generasi muda, sebagai dasarnya. Dengan memberikan kesadaran akan identitas serta rasa bangga yang wajar sebagai bangsa yang memiliki kebudayaan dan tradisi yang begitu kaya. Dengan demikian dimaksudkan sejak awal, menangani secara serius masalah pembinaan dan persatuan bangsa. Suatu proses pendidikan dan perjuangan yang akhirnya tiba pada suatu titik puncak ditemukannya identitas dirinya dalam wadah kebangsaan, pada kenyataan bahwa kita adalah penduduk dari satu negeri kepulauan, yaitu Indonesia; bahwa kita memiliki bahasa yang menjadi alat komunikasi bersama, yaitu bahasa Indonesia; bahwa kita merupakan suatu bangsa yang satu, yaitu bangsa Indonesia.

Proses ini dimulai dari akarnya, yaitu memecahkan masalah memberikan kesadaran politik pada bangsa yang mendiami wilayah begitu luas, dari Sabang sampai ke Merauke. Memberikan kesadaran bahwa penduduk yang ketika itu berjumlah puluhan juta itu, terdiri dari pelbagai sukubangsa bagaikan suatu mozaik yang indah, yang terdiri dari sukubangsa Jawa, Sunda, Madura, Lampung, Minangkabau, Batak, Melayu, Aceh, Dayak, Makasar, Bugis, Minahasa, Maluku, Bali, Timor, Irian, dll, serta mempunyai latar belakang sejarah dan nasib yang sama. Namun, selama ratusan tahun menderita di bawah kekuasaan kolonialisme Kerajaan Belanda. Bahwa nasib dari bangsa Indonesia yang miskin, terbelakang, terkungkung dan terbelenggu itu hanyalah bisa diubah secara menyeluruh, melalui suatu perjuangan untuk mencapai kemerdekaan. Bahwa berhasil tidaknya perjuangan itu, banyak tergantung pada keadaan apakah bangsa kita bisa membangun suatu persatuan kokoh yang mencakup semua golongan dan kekuatan sosial-politik yang ada di dalam masyarakat Indonesia.

Sebagai pejuang kemerdekaan, Bung Karno merasa dirinya pertama-tama adalah orang Indonesia. Beliau tidak melihat dirinya, pertama-tama sebagai bangsa Jawa, atau sebagai bangsa Bali. Juga tidak bertolak dari pendirian bahwa dirinya pertama-tama, sebagai orang yang beragama Islam. Tetapi jelas, sebagai seorang Muslim, BungKarno dengan sungguh-sungguh membaca dan mempelajari ajaran Islam, serta berusaha mengkhayatinya dalam kehidupan bermasyarakat. Ketika beliau semasa belajar di HBS di Surabaya ‘mondok’ di rumah H.O.S. Tjokroaminoto, pemimpin Sarikat Islam yang kharismatik dan punya pengaruh besar, pemimpin Sarika Islam itu praktis menjadi ‘mentor’ Bung Karno dalam proses memahami seluk-beluk politik dan perjuangan. Dalam periode itu BungKarno memperoleh kesempatan yang amat berharga untuk belajar dari HOS Tjokroaminoto mengenai Islam dan Islamise, serta saling hubungan antara Islam-isme dan perjuangan untuk kemerdekaan. Periode tsb menambah keyakinan BungKarno mengenai banyak dan pentingnya kesamaan antara Islamisme, Nasionalisme dan pandangan-pandangan Kiri yang ketika itu termanifestasi pada gerakan sosial-politik yang breorientasi pada Marxisme.

Sebagai insan politik yang banyak menyelami pandangan, teori politik dan ekonomi yang dikenal sebagai pandangan yang Kiri, khususnya Marxime, Bung Karno tidak menyembunyikan bahwa beliau tidak sedikit mendapatkan inspirasi dari pandangan-pandangan Kiri itu, khususnya pandangan dan teori Marx dan pemimpin-pemimpin gerakan kiri lainnya di Eropah ketika itu, mengenai kapitalisme dan imperialisme. Namun, pertama-tama beliau merasa dirinya sebagai putra Indonesia, yang kewajiban utamanya adalah berjuang untuk kepentingan bangsanya sendiri.

Dari pendirian patriotik inilah beliau mendirikan Indonesia Muda yang kemudian berkembang dan dikenal sebagai Partai Nasional Indonesia.

Juga tidak berkelebihan untuk mengatakan bahwa dari sejumlah pimpinan gerakan kemerdekaan Indonesia, dari para ‘founding fathers’ nasion kita ini, adalah Bung Karno yang pertama-tama mengungkap dan mengkhayati kenyataan yang ada ketika itu, bahwa kekuatan sosial dan politik Indonesia yang terlibat dalam perjuangan untuk kemerdekaan bangsa, adalah kekuatan sosial politik Nasoinalisme, Islamisme dan Marxisme. Bung Karno tidak berhenti di situ, beliau melihat dan mengkhayati bahwa ketiga kekuatan sosial-politik di dalam masyarakat Indonesia, yang melakukan perjuangan untuk kemerdekaan bangsa dan negeri, perlu memiliki kesadaran untuk bersatu! Dari situlah a.l. lahir tulisan Bung Karno berjudul “NASIONALISME, ISLAMISME DAN MARXISME”, yang beliau publikasikan didalam penerbitan SULUH INDONESIA MUDA, 1926. (Baik untuk dikemukakan di sini bahwa meskipun karya Bung Karno itu ditulis 75 tahun yang lalu, kecuali mempunyai arti sejarah, ia tetap memiliki nilai-nilai berharga yang masih tetap relevan bila dihubungkan dengan kondisi kongkrit dewasa ini yang telah mengalam perubahan-perubahan besar!)

Kecuali melakukan analisa yang mendalam mengenai kekuatan sosial politik masing-masing aliran, yaitu aliran Nasionalisme, aliran Islamisme dan aliran Marxisme, untuk mengarahkan masing-masing aliran itu untuk melakukan kerjasama dan bersatu demi usaha perjuangan untuk kemerdekaan bangsa, Bung Karno memberikan kritik yang beralasan kepada masing-masing aliran, yang bersikap saling menolak terhadap aliran lainnya. Seyogianya ada baiknya kita cermati bersama tulisan Bung Karno, mengenai masalah yang bersangkutan, seperti yang dikutip di bawah ini:

“Pergerakan Marxis di Indonesia ini, ingkarlah sifatnya kepada pergerakan yang berhaluan Nasionalistis, ingkarlah kepada pergerakan yang berazas ke-Islam-an. Malah beberapa tahun yang lalu, keingkaran ini sudah menjadi suatu pertengkaran perselisihan faham dan pertengkaran sikap, menjadi suatu pertengkaran saudara, yang, sebagai yang sudah kita terangkan dimuka, meyuramkan dan menggelapkan hati siapa yang mengutamakan perdamaian, menyuramkan dan menggelapkan hati siapa yang mengerti, bahwa dalam pertengkaran yang demikian itulah letaknya kealahan kita. Kuburkanlah nasionalisme, kuburkanlah politik cinta tanah-air, dan lenyapkanlah politik-keagamaan, –begitulah seakan-akan lagu-perjoangan yang kita dengar. Sebab, katanya: Bukankah Marx dan Engels mengatakan, bahwa ‘kaum buruh itu tak mempunyai tanah-air’? Katanya : Bukankah dalam ‘MANIFES KOMUNIS’ ada tertulis, bahwa “komunisme itu melepaskan agama”? Katanya: Bukankah Bebel telah mengatakan , bahwa “bukanlah Allah yang membikin manusia, tetapi manusialah yang membikin-bikin Tuhan”?

“Dan sebaliknya! Fihak Nasionalis dan Islamis tak berhenti-henti pula mencaci-maki fihak Marxis, mencaci-maki pergerakan yang “bersekutuan” dengan orang asing itu, dan mecaci-maki pergerakan yang “mungkir” akan Tuhan. Mencaci pergerakan yang mengambil teladan akan negeri Rusia yang menurut pendapatnya: azasnya sudah palit dan bahkan mendatangkan “kalang-kabutnya negeri” dan bahaya-kelaparan dan hawar-penyakit yang mengorbankan nyawa kurang lebih limabelas juta manusia, suatu jumlah yang lebih besar dari pada jumlahnya sekalian manusia yang binasa dalam peperangan besar yang akhir itu.

“Demikianlah dengan bertambahnya tuduh-menuduh atas dirinya masing-masing pemimpin, duduknya perselisihan beberapa tahun yang lalu: satu sama lainnya sudah s a l a h mengerti dan saling tidak mengindahkan.”

Selanjutanya dalam tulisannya itu Bung Karno banyak mengeritik sikap dan pandangan masing-masing golongan khususnya kaum Marxis yang kaku dan tidak bisa melihat perubahan yang terjadi sejak lahirnya Marxisme. Beliau juga menunjukkan bahwa perjuangan ketiga aliran politik tsb yakni Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme mempunyai dasar bersama yang kokoh, yaitu tujuan kemerdekaan dan kebesaran Indonesia.

Pada penutupan artikel beliau itu, Bung Karno menjelaskan lagi:

“Dengan jalan yang jauh kurang sempurna, kita mencoba membuktikan, bahwa faham Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme itu dalam negeri jajahan pada berbagai bagian menutupi satu sama lain. Dengan jalan yang jauh kurang sempuna kita menunjukkan teladan pemimpin- pemimpin di lain negeri. Tetapi kita yakin , bahwa kita dengan terang benderang menunjukkan kita menjadi satu . Kita yakin pemimpim-pemimpin Indonesia semuanya insyaf bahwa Persatuan-lah yang membawa kita ke arah ke-Besaran dan ke-Merdekaan. Dan kita yakin pula , bahwa, walaupun fikiran kita tidak mencocoki semua kemauan dari masing-masing fihak, ia menunjukkan bahwa Persatuan itu b i s a dicapai”.

Sesudah menyatakan harapan yang mendambakan akan munculnya Kampiun Persatuan di cakrawala gerakan kemerdekaan Indonesia, Bung Karno memberikan saran yang berbunyi sbb:

“Kita harus bisa menerima; tetapi kita juga harus bisa memberi. Inilah rahasianya Persatuan itu. Persatuan tak bisa terjadi, kalau masing-masing fihak tak mau memberi sedikit-sedikit pula. Dan jikalau kita semua insyaf, bahwa kekuatan hidup itu letaknya tidak dalam menerima, tetapi dalam memberi; jikalau kita semua insyaf bahwa dalam percerai-beraian itu letaknya benih perbudakan kita; jikalau kita semua insyaf , bahwa permusuhan itulah yang menjadi asal kita punya ” v i a d o l o r o s a “; jikalau kita insyaf, bahwa Rokh Rakyat Kita masih penuh kekuatan untuk menjunjung diri menuju Sinar yang Satu yang berada ditengah-tengah kegelapan-gumpita yang mengelilingi kita ini, — maka p a s t i l a h Sinar itu tercapai juga. Sebab Sinar itu d e k a t ! ”

Demikian sekadar kutipan yang diambilkan dari tulisan Bung Karno. Kutipan yang disajikan agak panjang juga. Namun dirasakan keperluannya, untuk mendapat sekadar gambaran tentang keyakinan dan hasrat Bung Karno yang beliau perjuangkan sejak masa muda beliau untuk membangun persatuan di kalangan bangsa kita, demi kepentingan perjuangan untuk kemerdekaan dan kebesaran bangsa.

Apa yang ditulis oleh Bung Karno 75 tahun yang lalu, didasarkan pada situasi dan kondisi saat itu. Situasi sekarang sudah banyak berubah. Suatu negara Indonesia yang merdeka telah berdiri 50 tahun lebih. Bung Karno, bapak bangsa kita, telah digulingkan dan dipersekusi oleh Jendral Suharto dan komplotannya, sampai beliau meninggal. Suatu kekuasaan yang menamakan dirinya Orde Baru di bawah mantan Jendral Suharto telah mengubah Indonesia yang merdeka, menjadi suatu negeri otoriter yang menginjak-injak hak-hak demokrasi dan HAM .

Kekuasaan Orba yang berlangsung selama 32 tahun, telah menghancurkan usaha persatuan bangsa yang dengan begitu susah payah diusahakan dan diperjuangkan oleh Bung Karno dan pemimpin-pemimpin partai politik Islam, Nasionalis dan Marxis, dalam suatu wadah yang oleh Bung Karno sendiri ketika itu diberi nama Nasakom.. Tambahan lagi Marxisme, yang merupakan salah satu pandangan dan aliran politik yang kongkrit ada dan punya pengaruh yang tidak kecil di Indonesia, telah dilarang dan ditindas sedemikian rupa oleh rezim Suharto. TAP MPRS No. XXV, 1966, yang bagaikan pisau belati yang menghunjam ke ulu-hati usaha mempersatukan bangsa, merupakan monumen cacad yang memalukan dalam sejarah perkembangan negara Indonesia menuju suatu ‘rechtsstaat’, tidak bisa dibiarkan bercokol terus dalam kehidupan kita bernegara yang demokratis.

Dewasa ini tulisan Bung Karno itu sesungguhnya masih relevan. Kenyataannya ialah bahwa di negeri kita, di dalam masyarakat kita, tetap masih ada kekuatan sosial-politik yang didasarkan atas pandangan Nasionalisme yang sehat. Masih tetap ada kekuatan sosial-politik yang berorientasi pada Islamisme. Di dalam masyarakat kita sekarang ini, meskipun Orba berusaha untuk menindas dan membungkamnya, masih tetap ada kekuatan sosial-politik yang berorientasi pada Marxisme dan/atau pandangan dan teori yang Kiri lainnya. Selama masih ada penindasan dan pemerasan , selama kapitalisme dan imperialisme masih ada dan melakukan praktek pemerasan dan penindasan terhadap sebagian besar umat manusia, selama itu masih akan ada perlawanan. Selama ada perjuangan terhadap penindasan dan penghisapan, selama itu fikiran Marxis dan fikiran Kiri lainnya, yang memperjuangkan keadilan sosial dan penghapusan penghisapan oleh manusia atas manusia lainnya, akan tetap ada, bahkan berkembang dan bertambah besar.

Di banyak negeri di dunia dewasa ini, pandangan-pandangan Kiri dimana ajaran Marx memainkan peranan sebagai pendorong dan pemberi inspirasi, sebagai suatu cara dan metode menganalisa keadaan masyarakat, politik, ekonomi dan kekuasaan, tidak punah. Masih tetap eksis, dan organisasi-organisasi sosial dan parpol-parpol yang berorientasi pada pandangan-pandangan Kiri tsb tidak sedikit yang memperoleh kepercayaan rakyat. Karena parpol-parpol dan organisasi-organiasi tsb menitik beratkan usaha kegiatannya pada perbaikan nasib rakyat yang luas, khususnya di bidang perumahan rakyat, pendidikan, kesehatan masyarakat, serta usaha penghapusan pengangguran serta ditegakkannya lembaga jaminan sosial yang adil, khususnya bagi rakyat kecil.

Mengkhayati kehidupan dan perjuangan rakyat kita di waktu yang lampau dan dewasa ini, serta menyaksikan kekuatan-kekuatan sosial politik yang terlibat di dalamnya, tidaklah salah untuk menarik kesimpulan bahwa persatuan diantara semua kekuatan sosial-politik yang memperjuangkan penghapsan penindasan dan penghisapan itu, diperlukan untuk bisa tercapainya tujuan tsb. Dari sini bisa difahami mengapa diperjuangkannya kerjasama dan persatuan antara kekuatan sosial-politik yang di dasarkan atas Nasionalisme, Islamisme, Marxisme dan pandangan Kiri lainnya, adalah tetap merupakan agenda yang mendesak bagi bangsa kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: