Kongres VI PKI (16-09-1959)

Yo sanak yo kadang,
malah yèn mati aku sing kélangan

Saudara-saudara sekalian,

Merdeka !
(sambutan gemuruh ” Merdeka ! “, tepuk tangan lama).

Saudara-saudara sekalian,

Pada permulaan bulan Juli yang lalu, sdr. Aidit di ruangan Istana Negara menanya kepada saya : –” Bung Karno, sekarang ini sedang berjalan pelarangan kegiatan politik. Apakah kiranya Partai Komunis Indonesia dalam waktu yang singkat boleh mengadakan Kongres di Jakarta ? “

Pada waktu itu saya berkata kepada saudara Aidit : –”Adakan kongres itu” (tepuk tangan dan sorak lama, terdengar pekik : “Hidup Bung Karno !”). -”Adakan Kongres itu lewat tanggal 1 Agustus yang akan datang”. Dan didalam pada akhir bulan Juli sebelum tanggal 1 Agustus, pada satu pagi saya memanggil KMKB Jakarta Raya, Overste Umar, minum kopi dengan saya pagi-pagi (tawa). Dan saya berkata kepada Overste Umar :–” Overste Umar, nanti lewat tanggal 1 Agustus Partai Komunis Indonesia akan mengadakan Kongres, jagalah agar supaya Kongres itu berjalan baik, sebab Republik Indonesia adalah Republik Demokrasi. (tepuk tangan lama).

Saudara-saudara, maka sekarang telah terang langsunglah Kongres itu. Dan sedianya saya, diminta oleh sdr. Aidit untuk menghadiri salah satu sidang resepsi daripada Kongres ini pada tanggal 15 September atau sebelum 15 September. Tapi pada waktu itu saya berkata kepada sdr. Aidit : –Sayang, maaf, sebelum tanggal 15 September tak mungkin saya dapat menghadiri suatu resepasi oleh karena saya hendak mengadakan perjalanan ke Aceh, ke Riau, ke Kalimantan, tetapi insya Allah, lewat 15 September saya akan dapat menghadiri resepsi penutupan daripada Kongres PKI “. Dan oleh sdr ; Aidit dijadikan resepsi penutupan Kongres itu terjadi pada tanggal 16 September. Dan, saudara-saudara, syukur alhamdulmlilah pada ini malam saya hadir dikalangan saudara-saudara. (tepuk tangan). Hadir dikalangan saudara-saudara, diterima oleh saudara-saudara dengan rasa kawan, dengan rasa cinta, yang atasnya saya mengiucapkan banyak-banyak terimakasih. Diterima oleh saudara-saudara didalam ruangan, yang … saya kira ini orang-orang Komunis yang membuat ruangan yang lebih indah, (tepuk tangan lama) dengan ruangan yang indah dengan hiasan-hiasan yang indah dan dinamis.

Maka teringatlah kepada saya salah satu Kongres PKI … hampir 40 tahun yang lalu, yaitu di Bandung kira-kira tahun 1922 atau 23. Saya tidak ingat lagi Kongres PKI yang nomor berapa, tapi yang jauh daripada yang indah ini. Pada waktu itu Kongres diadakan disatu sekolah, namanya sekolah partikulir di jalan Pungkur, Bandung. Sangat sederhana. Jumlah Kongresis jauh lebih kurang daripada yang sekarang dan saya ingat dibagian pimpinan, yang pada waktu itu dinamakan ” Hoofdbestuur ” ada berderet 15 kursi tetapi 9 daripada kursi itu kosong oleh karena mereka yang harus duduk di situ meringkuk didalam penjara. Kongres itu, dus, hanya dipimpin oleh 6 orang pemimpin saja. Jauh perbedaan dengan keadaan yang sekarang yang kita melihat sdr. Aidit gagah perwira, (tepuk tangan lama) sdr.Lukman, sdr. Nyoto, sdr.Sudisman, sdr.Sakirman, disampingnya ada kandidat Politbiro sdr.Nyono, dan kita melihat disana ada dua orang wanita, disana satu orang wanita, dan disana lagi dua orang wanita, berbedaan dengan keadaan hampir 40 tahun yang lalu itu, saudara-saudara. Dan pada waktu itu saya duduk nonton ikutserta dalam Kongres di Bandung itu yang setengah sebagai ” penyelundup “, pemuda. (tawa dan tepuk tangan). Berbeda dengan sekarang yang saya hadir didalam Kongres ini sebagai Presiden Republik Indonesia. (tepuk tangan lama). Ya, saudara-saudara, barangkali sayalah satu-satunya presiden suatu negara di dunia ini, negara yang bukan dinamakan Sosialis, yang menghadiri satu Kongres Partai Komunis (tepuktangan lama). Nah betapa tidak saudara-saudara ! Betapa tidak hendak saya hadiri, kan saudara-saudara orang Indonesia, warganegara Indonesia, pejuang-pejuang kemerdekaan Indonesia, pejuang-pejuang menentang imperialisme yang membela kemerdekaaan Indonesia ini. (tepuktangan gemuruh). Saudara-saudara adalah utusan daripaka sebagian Rakyat Indonesia, saudara-saudara adalah sama-sama orang-orang bangsa Indonesia. Malah saya akan berkata dalam bahasa Jawa, saudara-saudara itu, –” yo kadang, yo sanak, malah yen mati aku sing kélangan ” (tepuktangan gemuruh lama).

Yah, saudara-saudara, demikianlah keadaannya maka oleh karena itupun saya merasa bergembira sekali tatkala saya hendak datang di ruangan gedung ini, dari muka Istana mula telah melewati barisan, barangkali pemuda-pemuda komunis, (tepuktangan) semua menyerukan satu yel : ” Gotong-royong, gotong-royong .. Ho lopis kuntul baris, ho lopis kuntul baris, ho lopis kuntul baris, gotong-royong .. Ho lopis kuntul baris, ho lopis kuntul baris, ho lopis kuntul baris … (semua hadirin bersama-sama menyerukan ” Ho lopis kuntul baris “). Saya amat gembira oleh karena, ya memang saudara-saudara jikalau kita hendak menyelesaikan revolusi nasional kita ini, tidak ada jalan lain melainkan gotong-royong dan ho lopis kuntul baris.(tepuktangan).

Dibelakang ada ditulis, ” Kongres Nasional ke-VI PKI Untuk Demokrasi dan Kabinet Gotong-Royong “. (tepuktanggan). Saya dengan tegas berkata kepada saudara-saudara, Kabinet Gotong-Royong tetap menjadi cita-cita Bung Karno! (tepuktangan lama). Sebab sebagai tadi saya katakan, menyelesaikan revolusi nasional kita, apalagi revolusi kita setelah memasuki fase sosial-ekonominya untuk menyelenggarakan masyarakat adil dan makmur sebagai amanat penderitaan Rakyat, tidak ada jalan lain melainkan dengan gotong-royong dan ho lopis kuntul baris. Maka oleh karena itu, saudara-saudara saya tadi berkata, tetap saja bercita-cita Kabiner Gotong Royong dan disamping itu, saudara-dsaudara melihat bahwa saya telah membentuk Dewan Pertimbangan Agung atas dasar gotong-royong dan insya Allah s.w.a., akan membentuk MPR – Majelis Permusyawaratan Rakyat atasdasar gotong-royong pula. (tepuktangan lama).

Saya bergembira terhadap PKI terutama sekali diwaktu yang akhir-akhir ini, — dan kata ” akhir-akhir ini ” –bukan hanya beberapa hari tapi telah beberapa tahun — PKI dengan tegas menyatakan mutlak perlunya persatuan nasional sebagaimana tadi diutarakan buat kesekian kalinya lagi oleh sdr. D.N. Aidit. Cocok benar dengan yang saya katakan, masih di jaman Jokyapun, kemudian beberapa kali saya ulangi di Jakarta ini, bahwa meskipun sepanjang sejarah selalu ada perjuangan klas, selalu ada pertentangan klas, vide Manifesto Komunis, jadi pertentangan klas, perjuangan klas itu selalu ada tetapi didalam sesuatu revolusi nasional maka kita tidak meruncing-runcingkan pertentangan klas dan perjuangan klas diantara bangsa sendiri (tepuktangan). Sebaliknya, sebaliknya kita semua menggalang persatuan revolusioner, semua tenaga revolusioner menjadi satu gelombang maha sakti yang menghantam remuk redam terhadap kepada musuh kita yang utama, yaitu imperialisme-politik dan imperialisme-ekonomi (tepuktangan lama). Saudara-saudara, hal ini saya ucapkan dengan jelas didalam Manifesto Politik saya pada tanggal 17 Agustus 1959 yang lalu. Dan tatkala saya mengadakan perjalanana beberapa hari yang lalu ke Aceh, diikuti oleh beberapa dutabesar Polandia yang duduk disana pakai dasi merah, dutabesar Uni-Sovyet yang duduk disana dengan dasi kupu-kupu, dutabesar India yang duduk disana dengan dasi putih kalau tidak salah, dan dutabesar-dutabesar lain, dengan gembira saya melihat bahwa dimana-mana tempat, baik daerah Aceh maupun daerah Riau, maupun di daerah Kalimantan, PKI-lah salahsatu tenaga yang menyambut dengan baik (tepuktangan lama), menyambut dengan baik dan konsekwen kembali kita kepada Undang-Undang Dasar 45, dan menyambut dengan baik Persatuan nasional, menyelenggarakan persatuan nasional itu dengan sehebat-hebatnya (tepuktangan gemuruh). Oleh karena itu saudara-saudara, pantas saya mengucapkan penghargaan saya kepada Partai Komunis Indonesia didalam hal ini.

Di Kutaraja, tatkala saya membuka Fakultas Ekonomi, Fakultas Ekonomi yang terdiri dari usaha gotong-royong daripada Rakyat Aceh, dan saya melihat dutabesar-dutabesar dari negara-negara asing yang mengikuti perjalanan saya itu, antara lain dutabesar India, saya mensitir ucapan daripada pemimpin India, Sri Yawaharlal Nehru. Sri Yawaharlal Nehru, kata saya pada waktu itu, jumlah total jendral pernah masuk penjara 11 kali, ada yang lama ada yang sebentar. Sebelas kali beliau masuk-keluar penjara, masuk-keluar, masuk-keluar, masuk-keluar .., sehingga pada satu ketika beliau berkata merasa dirinya itu sebagai satu ” shuttle-cock ” didalam permainan badminton. In, out, in, out, .. in, out penjara. Beliau berkata : ” What a shuttle-cock I have become “. ” Saya ini kok menjadi shuttle-cock begini ? “. Tatkala saya ingat akan ucapan Sri Yawaharlal Nehru itu, saya ingat pada diri saya sendiri. Nehru merasa dirinya sebagai ” shuttle-cock “, lha saya ini merasa diri saya sebagai apa ? Saya berkata dihadapan khalayak ramai di Kutaraja itu, saya merasa diri saya sebagai sepotong kayu dalam satu gundukan kayu api-unggun, sepotong dari ratusan atau ribuan potong kayu didalam api unggun besar yang sedang menyala-nyala. Saya menyumbang sedikit kepada nyalanya api unggun itu, tetapi sebaliknyapun saya dimakan oleh api-unggun itu, saudara-saudara. Menyumbang kepada api-unggun, tetapi juga dimakan oleh api-ungggun. Tidakkah sebenarnya kita semua berasa demikian saudara-saudara ?

Saudara-saudara, terutama sekali hai saudara saudara dari PKI, saudara-saudara masing-masing menyumbang kepada api revolusi, tetapi saudarapun dimakan oleh api revolusi itu. Dimakan dalam arti bahwa saudara ikut serta dalam dinamikanya revolusi ini habis- habisan, bahwa saudara merasa diri saudara mendapat impetus, mendapat kekuatan tenaga, mendapat penggerak jiwa daripada revolusi yang apinya sekarang sedang berkobar-kobar dan menyala-nyala itu. Kita semuanya harus merasa demikinan tanpa kecuali, baik sau dara Asmara Hadi yang duduk disitu, maupun Overste Umar yang duduk disana, maupun Zus Ruslan Abdulgani yang duduk disana, maupun sdr. Suwiryo yang duduk disana, maupun sdr Sudiro yang duduk disana, maupun Pak Aruji Kartasasmita yang duduk disini, maupun sdr Sukarni yang duduk disitu, maupun sdr Ruslan Abndulgani yang duduk disitu, maupun saudara Aidit yang duduk disitu, maupun saya sendiri yang berdiri dimuka mikrofon ini, harus merasa diri kita ini sebagai penyumbang kepada revolusi dan dimakan oleh api-revolusi. Hanya dengan jalan demikianlah saudara-saudara maka impetus menyelesaikan revolusi nasional dengan cara ho lopis kuntul baris dan gotong royong dapat terlaksana Jangan diantara kita itu ada yang merasa diri kita sebagai … hanya pemberi, penyumbang kepada revolusi saja jangan diantarara kita itu ada yang merasa sebagai almarhum maharaja diraja Hamurabi yang berkata : –” Aku titisan daripada Aburamasda, aku telah membuat air sungai mengalir di ladang-ladang dan memberi kesuburan kepada ladang-ladang “. Sewaktu air sungai pergi ke ladang dan memberi kesuburan ke ladang-ladang itu dianggapnya sebagai perbuatannya sendiri, menurut titahnya sendiri. Tidak boleh kita meskipun kita menjadi pemimpin besar bagaimanapun saudara-saudara, mempunyai rasa yang demikian itu Tetapi kita semua harus merasa diri kita satu bagian daripada satu massa yang besar, bangsa Indonesia yang 88 juta jumlahnya bahkan sebagian daripada umat manusia didunia ini. Menyumbang kepada revolusi, bukan saja revolusi nasional, tapi juga revolusi besar didunia ini, tetapi sebaliknyapiun dimakan oleh revolusi itu.

Ya, sebagai yang saya katakan didalam pidato saya 17 Agustus 59, kita sekarang ini mengalami revolusi yang besar sekali, bukan saja di Indonesia, tetapi juga diluar Indonesia. Saya berkata bahwa ¾ daripada umat manusia ini sekarang didalam revolusi. Revolusi umat manusia untuk mengejar kemerdekaan. Revolusi umat manusia yang dijalankan oleh lebih daripada 2000 juta manusia mengejar kebebasan, mengejar persaudaraan dunia, mengejar hidup yang wajar, mengejar masyarakat adil dan makmur dan lain sebagainya. Kita sebagai bagian daripada revolusi besar itu saudara-saudara, mempunyai tugas menyelesaikan revolusi di bumi Indonesia menurut kepribadian Indonesia sendiri.

Saudara-saudara, tadi sdr. Aidit habis-habisan memuji pada saya. Sebentar-sebentar Bung Karno, Bung Karno, Bung Karno. Lho, sdr. Aidit jangan lupa, saya ini hanya satu bagian daripada gelombang besar ini. Saya bukan Hamurabi yang berkata : –” Saya adalah titisan daripada Aburamasda “, saya bukan pembuat revolusi ini. Tidak ! Saya hanya sekedar bagian daripada revolusi ini, saya sekedar satu potong kayu didalam api-unggun yang besar ini dan saya dimakan malahan oleh nyalanya api-unggun itu (tepuk tangan)

Saudara-saudara, nah, yang berdiri dihadapan saudara-saudara ini memang satu manusia yang dipandang beberapa manusia adalah aneh. Saya sendiri telah mengakui, saya ini ” campuran “, saudara-saudara, campuran dari 3 sifat, ya nasionalis, ya sosialis, ya muslimin. Tiga sifat ini tercampur dalam diri saya. Malahan saudara-saudara, ada yang heran, bagaimana bisa saudara Sukarno ini muslimin padahal beliau berkata, pernah berkata, bahwa beliau adalah seorang historis materialis ? Yah, saudara-saudara, buat sekian kalinya saya ulangi : Saya memang seorang historis materialis. Lha kok bisa saya menjadi orang muslimin ? Yang percaya kepada Tuhan ? Yang sembahyang ? Yang berpuasa ? Dan lain-lain sebagainya.

Saudara-saudara, saya adalah seorang historis materialis, tetapi saya bukan seorang wijsgerig materialis, bukan seorang filosofis materialis. Saya terangkan kepada Saudara-saudara bedanya. Seorang filosofis materialis atau wijsgerig materialis berkata, fikiran itu adalah keluar daripada proses otak. Kalau tidak ada otak, tidak ada fikiran. Maka seorang wijsgerig materialis berkata : “gedachte is phosphor”. Fikiran itu adalah phosphor. Oleh karena otak terbuat sebagian besar daripada phosphor, maka dia berkata “fikiran adalah phosphor”, “gedachte is phosphor”. Ada juga dia berkata, “rasa adalah jantung”, oleh karena tanpa jantung tiada rasa. Dicari terus .. roch, jiwa, sebenarnya tidak ada sebab yang dinamakan roch dan jiwa itu adalah badan sebagaimana gedachte adalah phosphor, rasa adalah jantung, jiwa atau roch adalah badan, molekul. Dan saya bukan yang demikian itu saudara-saudara. Saya bukan filosofis materialis, –terus terang saja supaya kita mengenal satu sama lain ! (tepuktangan). Saya bukan wijsgerig materialis. Tidak ! Saya adalah seorang historis materialis ! Historis materialis adalah satu ilmu, satu metode untuk mengerti sejarah. Satu metode analisa sejarah yang mengatakan bahwa segenap alam-alam fikiran, ideologi dan lain sebagainya didalam periode daripada sejarah ditentukan oleh perbandingan-perbandingan sosial-ekonomi pada waktu itu. Sosial-ekonominya pada waktu itu demikian, ideologinya demikian, sosial-ekonominya pada satu waktu hijau, ideologinya hijau, sosial-ekonominya pada satu waktu hitam, ideologinya hitam, sosial-ekonominya pada satu waktu merah, ideologinya merah. Ini adalah ilmu yang dinamakan historis materialisme dan saya termasuk pengikut daripada teori ini, maka oleh karena itu saya adalah seorang historis materialis. Yah, jikalau saudara mendengar dari saya bahwa saya itu ya nasionalis, ya sosialis, ya muslimin maka untuk mengerti diri saya yang kompleks itu saudara-saudara, ingatlah kepada historis materialisme ini. Saya ini hasil daripada sejarah. Sebab saya nasionalis, betapa tidak saudara-saudara ! Saya patriot, betapa tidak ! Oleh karena bangsa saya beratus-ratus tahun dijajah orang, oleh karena bangsa saya beratus-ratus tahun kehilangan kemerdekaan, oleh karena bangsa saya beratus-ratus tahun dibelenggu, dihina, ditindas, oleh karena bangsa saya beratus-ratus tahun bahkan lebih lama, bangsa yang menyebut namanya sendiri tidak boleh. Bangsa yang demikian itu saudara-saudara, tidak boleh tidak tentu menghasilkan rasa patriotisme dan rasa nasionalisme (tepuk tangan lama). Dan saya lahir didalam bangsa yang demikian itu. Jadi nasionalisme saya boleh saudara artikan dan bisa saudara artikan sebagai hasil daripada proses sejarah dikalangan bangsa kita.

Sosialisme saya bagaimana ? (tawa). Ya, saya ini putera, anak daripada bangsa yang terutama sekali ekonomi dihisap, ditindas oleh imperialisme. Satu bangsa yang menurut perkataan Dr.Huender, ini beratus-ratus kali saya katakan telah menjadi satu bangsa ” natie van koelies en koelies onder de naties “nation of coolis and coolis among nations”, satu bangsa yang hidup daripada dua setengah sen satu orang satu hari, satu bangsa yang makan sekarang tidak tahu bagaimana besok akan makan, satu bangsa yang pakaiannya compang-camping, satu bangsa yang gubugnya doyong, satu bangsa yang anaknya selalu menangis oleh karena kelaparan, satu bangsa.. pendek kata yang hidup didalam kalangan kemiskinan dan kemelaratan. Bangsa yang demikian itu mesti mempunya cita-cita sosialisme. Dan saya adalah putera daripada bangsa yang demikian itu. Bangsa yang demikian itu gandrung pada satu masyaratkat yang adil dan makmur, gandrung pada satu masyarakat yang tiap-tiap orang bisa bahagia, gandrung pada satu masyarakat yang tiap-tiap orang mempunyai prumahan yang layak, gandrung kepada sandang dan pangan, gandrung kepada satu masyarakat adil dan makmur, toto-raharjo, bangsa yang demikian itu saudara-saudara, adalah semestinya, historis semestinya, menjadi satu bangsa yang bercita-citakan sosialis dan bangsa yang semacam kita ini saudara-saudara tadinya banyak sekali diluar Indonesia. Maka oleh karena itu sayapun tidak heran, bahwa didalam abad duapuluh dimana-mana timbul negara-negara Sosialis (tepuktangan). Wakil dari Polandia (yang dimaksudkan wakil Bulgaria – Red.) berkata bahwa jumlah Rakyat negara Sosialis itu 900 juta. Saya kira salah hitung saudara, bukan 900 juta, tetapi menurut perhitungan saya lebih dari 1000 juta manusia (tepuktangan lama). Malah seperti saya katakan, inilah phenomen daripada abad ke-20. Salah satu phenomen, phenomen yaitu, gejala, lebih dari gejala, satu pertandaan daripada abad ke-20. Pertandaan yang pertama, phenomen yang pertama yalah didalam abad ke-20 ini terjadi negara-negara merdeka di Asia dan Afrika. Phenomen yang kedua didalam abad ke 20 ini yalah terjadinya negara-negara Sosialis, kalau tidak salah jumlahnya sudah 15 buah sekarang ini dan rakyatnya telah lebih daripada 1000 juta. Phenomen ini terjadi sebagaimana tadi saya katakan saudara-saudara, oleh karena bukan saja di Indonesia Rakyatnya hidup didalam kemiskinan dan papa-sengsara, tetapinya, tetapi dinegeri-negeri lainpun demikian juga, sehingga akhirnya timbullah gerakan-gerakan yang sekarang melahirkan negara-negara sosialis 15 buah dengan Rakyat lebih daripada 1000 juta.

Saudara lantas bertanya kepada saya :–” Lha musliminnya itu dimana ? ” Ditinjau dari sudut kemasyarakatan, ditinjau dari histori, bangsa kita ini adalah didalam tingkat yang dinamakan tingkat agraris, atau lebih tepat yang sekarang sedang meninggalkan tingkat agraris tetapi beratus-ratus tahun, mungkin beribu-ribu tahun, berada di tingkat argraris, tingkat terutama sekali bercocok-tanam, dan historis, maka bangsa yang demikian itu tidak boleh tidak saudara adalah bangsa yang religius, bangsa yang percaya pada hal-hal yang gaib. Kaum buruh, saudara-saudara yang hidup didalam pabrik-pabrik, mengetahui bahwa tenunan dihasilkan oleh mesin ini. Kaum buruh di pabrik listrik dengan exact bisa mengetahui kalau generator berjalan, tidak boleh tidak mesti keluar aliran listrik. Pasti keluar kain daripada mesin tenun ini. Tapi seorang tani, si-petani saudara-saudara, ia tanamkan ia punya bibit padi, sesudah tanamkan ia punya bibit padi tinggal memohon, memohon agar supaya hujan turun menyuburkan tanaman padi ini, memohon kepada yang gaib agar supaya tidak kering terik sehingga padinya nanti akan mati; memohon kepada suatu zat yang dia tidak lihat agar supaya tanamannya ini menjadi subur dan berhasil nantinya. Ini ditinjau dari sudut masyarakat dan sudut historis. Bangsa yang demikian itu saudara-saudara tak bisa lain daripada satu bangsa yang religius, ditinjau dari sudut masyarakat dan histori itu. Meskipun ada juga peninjauan yang lebih dalam daripada itu. Saudara lepaskan saja, misalnya, dari masyarakat dan histori lantas saudara tinjau saja lebih dalam, kenapa Bung Karno percaya pada Tuhan ? Kanapa Bung Karno itu muslimin ? Hal ini bolehlah bicara lain waktu. Tetapi engkau saudara-saudaraku -maaf saya memakai perkataan “engkau” — sebagai kaum historis materialis tentu mengerti bahwa rasa nasionalisme, apalagi rasa sosialisme, rasa keigamaan adalah juga, saya katakan juga, hasil daripada keadaan historis dan masyarakat. Oleh karena itu rasa nasinalisme dan rasa keigamaan adalah hal-hal yang obyektif didalam masyarakat kita sekarang ini. Maka saya berkata, siapa diantara saudara-saudara, siapa yang ada diantara engkau – maaf perkataan “engkau ” karena kawan sama kawan (tawa semua) -siapa diantara saudara-saudara tidak mau menerima adanya nasionalisme di Indonesia, adanya rasa keigamaan di Indonresia, saya berkata saudara bukan historis materialis, saudara bukan Komunis ! Oleh karena rasa nasionalisme, rasa keigamaan adalah hal-hal yang obyektif, maka oleh karena itulah saya gembira bahwa PKI diwaktu yang akhir-akhir ini, atau beberapa tahun, berdiri diatas dasar ini, bahwa ini adalah kenyataan-kenyataan yang riil, obyektif riil, bahkan bahwa tenaga-tenaga ini bisa membangunkan juga alat-alat, tenaga-tenaga yang progresif revolusioner dan didalam fase revolusi nasional maka nasionalisme adalah satu faktor progresif-revolusioner. Bahwa ini rasa keigamaanpun didalam fase kita sekarang ini adalah satu faktor yang mungkin, yang bisa, bahkan yang pasti progresif-revolusioner. Dan bahwa tenaga-tenaga ini, faktor-faktor obyektif itu digabungkan didalam suatu gabungan besar, satu gelombang besar dalam perkataan saya, gabungan daripada segenap tenaga revolusioner, adanya didalam tubuh bangsa Indonesia. PKI sesuai dengan kami pemimpin-pemimpin yang lain berdiri diatas dasar itu. Oleh karena itu semboyan PKI yalah tetap persatuan nasional dan Sdr.Aidit tadi berkata, berulang-ulang berkata, kita tetap berdiri diatas usaha persatuan nasional (tepuktanghan). Memang hanya dengan persatuan nasional kita bisa menyelesaikan revolusi nasional kita ini, mencapai masyarakat adil dan makmur. Saya tadi berkata, didalam revolusi nasional meskipun pertentangan klas, perjuangan klas laten, selalu ada sepanjang sejarah, bahkan saya berkata vide Manifesto Komunis, kita tidak boleh meruncing-runcingkan pertentangan klas diantara bangsa kita sendiri. Meskipun kita berkata demikian itu tidak berarti kita tidak boleh membuat kaum buruh atau kaum tani sedar akan klasnya, itu tidak berarti bahwa kita tidak boleh membuat kaum buruh dan kaum tani klasse bewust. (tepuktangan). Tidak, samasekali tidak ! Kita harus malahan membuat kaum buruh dan kaum tani klasse bewust, sadar akan klasnya (tepuktangan). Oleh karena justru didalam penyelenggaraan masyarakat yang adil dan makmur kaum buruh dan kaum tanilah yang harus menjadi motor (tepuktangan). Kaum buruh dan kaum tani soko-guru, saudara-saudara, kaum buruh dan kaum tani didalam masyarakat adil dan makmur, kaum buruh dan kaum tani yang jumlahnya lebih daripada 90% daripada Rakyat Indonesia. Mereka ini soko-guru daripada masyarakat adil dan makmur. Mereka ini soko-goro masyarakat sosialis a la Indonesia. Maka oleh karena itu kita wajib membuat kaum buruh dan kaum tani klasse bewust. Supaya mereka itu merasa, tiap mereka punya tugas historis, supaya mereka itu sedar akan mereka punya historische taak, supaya mereka itu merasa bahwa mereka adalah, sebagai tadi saya katakan, soko-guru daripada penyelenggaraan masyarakat adil dan makmur, dan soko-guru daripada masyarakat sosialisme Indonesia.

Saudara-saudara, maka jikalau saudara ingat uraian saya ini, saudara mengerti. Oo, Bung Karno itu sekalipun dia seorang ” campur-aduk “, –nasionalisme, sosialisme, muslimin, meskipun dia campur-aduk dari tiga sifat, Bung Karno selalu berdiri diatas dasar Gotong-Royong, diatas dasar ho lopis kiuntul baris (tepuk tangan lama). Dan sebagai tadi saya katakan saudara-saudara, DPA, Dewan Pertimbangan Agung, telah, alhamdullilah, saya bentuk atas dasar gotong-royong, Bapenas, Dewan Perancang nasional, telah saya bentuk atas dasar gotong-royong, insya Allah kataku tadi, MPR akan saya bentuk diatas dasar gotong-royong dan Kabinet Gotong-Royong tetap menjadi cita-cita saya (tepuktangan lama). Maka, maka, apa yang sudah kita capai sekarang ini, saudara-saudara sudah tentu belum memuaskan saya, tetapi kita berjalan terus dan kita terus berjalan, meskipun kaum imperialis geger. Itulah saya katakan, mari berjalan terus saudara-saudara menggalang kekuatan nasional menjadi gelombang maha hebat. Maka oleh karena itupun didalam pidato saya 17 Agustus 1959, saya berkata, insya Allah nanti akan dibentuk satu Front Nasional, (tepuk tangan) beda dengan Front Nasional Pembebasan Irian Barat yang sudah saya jewer telinganya (tawa riuh, termasuk Bung Karno), satu Front Nasional baru penggalang dari semua, segenap tenaga daripada bangsa Indonedsaia, penggalang daripada persatuan revolusioner Indonesia, penggalang dari ho lopis kuntul baris Indonesia (tepuk tangan lama dan terdengar satu yel : ” ho lopis kuntul baris “)

Dewan Pertimbangan Agung sekarang ini sudah mempunyai Panitia-Kecil, yang Panitia Kecil Dewan Pertimbangan Agung ini saya beri tugas : –coba pelajari soal pembentukan Front Nasional dan nanti kalau sudah mempelajarinya buatlah satu rumusan dan bawalah rumusan itu kepada Sudang Pleno Dewan Pertimbangan Agung. Maka akan saya bicarakan didalam sidang Pleno, didalam Sidang Pleno Dewan Pertimbangan Agung ini, rumusan atau isi rumusan daripada Panitia Kecil yang saya beri tugas untuk meninjau tentang pembentukan Front Nasional ini. Dan saudara-saudara, siapa yang saya jadikan ketua daripada Panitia Kecil Front Nasional ini ? Beliau duduk dihadapan saya dan memandang lurus kepada saya, Sdr. Arudji Kartawinata (tepuk tangan).

Jadi, kalau saudara mempunyai ide-ide tentang Front-Nasional, kasih pada Pak Arudji, cekokkan kepada Pak Arudji Kartawinata. Nanti Pak Arudji mengolahnya didalam Panitia Kecil, Pak Arudji membawanya kepada Dewan Pleno Dewan Pertimbangan Agung. Digodog didalam Sidang Pleno Dewan Pertimbangan Agung itu saudara-saudara, dan bulatlah nanti menjadi pendirian daripada Dewan Pertimbangan Agung dan insya Allah s.w.t; akan saya, sebagai Presiden/Panglima Tertinggi/Perdana Menteri, laksanakan apa yang diputuskan oleh Dewan Pertimbangan Agung itu (tepuktangan lama).

Saudara saudara, baik Dewan Pertimbangan Agung, maupun Depernas, maupun MPR yang akan datang, semuanya, seperti tadi saya katakan, berdiri diatas dasar gotong-royong, ho lopis kuntul baris. Tinggal saya minta kepada PKI, sebagaimana saya minta juga kepada PNI dan Nahdhatul Ulama dll, supaya didalam Dewan Pertimbangan Agung, supaya didalam Depernas, supaya didalam MPR, bekerjasama satu sama lainnya, se-erat-eratnya, bekerjasama diatas dasar dinamis revolusioner, menyelesaikan revolusi nasional kita, menentang imperialis habis-habisan. (tepuktangan).

Jaman perpecah-belahan saudara-saudara, jaman liberalisme sudah lalu, sejak 5 Juli kita telah kembali kepada UUD 45. Marilah kita sekarang dengan jiwa baru, dengan tenaga baru, dengan tekad baru, dengan roch baru, dengan elan baru menyelenggarakan persatuan nasuional yang ber-holopis kuntul baris-lah dapat menyelesaikan revolusi nasional dan mendirikan masyarakat yang adil dan makmur.

Sekian saudara-saurata, amanat saya kepada saudara-saudara. (tepuktangan riuh lama semua berdiri)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: