BAYANG-BAYANG NASIONALISME INDONESIA

BAYANG-BAYANG NASIONALISME INDONESIA

Di tengah zaman yang sedang berubah ke arah pragmatisme yang menihilkan ideologi, berbicara mengenai nasionalisme menjadi salah satu perbincangan menarik dalam menyikapi peringatan Hari Pahlawan 10 Nopember. Nasionalisme dari hari ke hari dirasakan semakin absurd. Absurditas ideologi memang tidak hanya menerpa nasionalisme. Namun, hanya nasionalismelah yang sejak kelahirannya mengandung kontroversi dan ironi. Harus diakui secara jujur, nasionalisme bukanlah ideologi yang dilahirkan dari Bangsa Indonesia. Ideologi itu pertamakali muncul dari kawasan Eropa Barat. Pada awal kemunculannya, nasionalisme selalu dikaitkan dengan pencerahan yang melatarbelakangi hadirnya negara bangsa modern, namun dalam perjalanannya, gagasan itu justru membawa kegelapan bagi bangsa-bangsa di Asia, Afrika dan Amerika Selatan ketika kehadirannya bermanifestasi dalam wujud kolonialisme-imperialisme.

Indonesia, tidak luput pula dari kehadiran kolonialisme-imperialisme. Cengkeraman rezim kolonial telah meruntuhkan kebesaran kekuasaan pribumi. Meskipun keberadaan kekuasaan pribumi itu tidak menjadi jaminan terwujudnya kesejahteraan rakyat, bahkan kolaborasi antara penguasa kolonial dengan kekuasaan feodal pribumi telah menyeret kehidupan rakyat ke dalam kegelapan yang panjang, namun kebesaran kekuasaan pribumi pada masa silam itu oleh para elite pergerakan seringkali dijadikan pijakan untuk menggugah harga diri dan membangkitkan semangat solidaritas kolektif rakyat. Karena itulah, nasionalisme Indonesia sebagaimana dikemukakan Ahmad Sahal dalam “Terjerat dalam Rumah Kaca”, mengandung muatan campur aduk antara perasaan anti asing (oleh Nietszche dinamakan ressentiment) yang direpresentasikan dalam pemerintahan kolonial, romantisme kolektif terhadap masa lalu yang agung atau diagung-agungkan (kebesaran Majapahit, Sriwijaya dan kekuasaan feodal lainnya di masa silam) serta heroisme terhadap masa depan dalam wujud cita-cita menuju kemerdekaan dan kemakmuran bersama. Dengan demikian, dapat dipahami jika Bung Karno dalam mengawali konstruksi nasionalisme Indonesia, lebih dulu berbicara tentang bangsa sebagai ikatan spiritual yang dijalin atas dasar perasaan senasib sebagai pihak terjajah serta kehendak mewujudkan kemerdekaan sebagai jalan menuju kemakmuran bersama. Dalam mengkonstruksi nasionalisme Indonesia, Bung Karno juga menyelipkan sentimen primordial dan romantisme masa silam yang pernah dimiliki sebagian komunitas rakyat dengan mengutip sejarah Majapahit, Sriwijaya dan kerajaan-kerajaan besar lainnya yang pernah ada di masa silam. Lahirnya nasionalisme di kalangan bangsa terjajah juga tidak lepas dari keberadaan kolonialisme-imperialisme. Kebijakan politik etis yang diterapkan pemerintah Kolonial Belanda dalam upaya memenuhi kebutuhan tenaga administrasi dan kebutuhan perangkat birokrasi rendahan lainnya dengan jalan membuka kesempatan memperoleh pendidikan bagi sebagian kalangan elite pribumi, telah melahirkan kesadaran baru tentang upaya penentuan nasib sendiri dan merumuskan cita-cita kolektif sebagai sebuah bangsa di kalangan elite terdidik tersebut.

Dalam konteks itu, Sahal mengemukakan, nasionalisme Indonesia tidak luput pula dari karakter ambivalensi, yakni antara perasaan anti asing dengan imajinasi identitas komunal, antara kehendak berkuasa dengan cita-cita luhur, antara relasi politik dengan tuntutan etik. Nasionalisme tidak hanya ambivalen, melainkan ambivalensi itu sendiri. Lebih lanjut Sahal menegaskan, ungkapan-ungkapan yang menjadi kata kunci dalam nasionalisme seperti senasib sependeritaan, bumi putera dan kenangan kolektif bisa sangat nisbi sekali pengertiannya. Ada bumiputera yang buruh dan ada yang priyayi. Kedua kelas sosial itu tentu mengalami nasib dan penderitaan yang tidak sama meskipun sama-sama berada di bawah penindasan kolonial. Namun, kontroversi dan ambivalensi itu tidak menghalangi munculnya kesadaran baru mengenai perubahan nasib dan cita-cita kolektif melakukan pembebasan dari belenggu kolonialisme. Kesadaran baru yang semula hanya muncul di lapisan elite kemudian disosialisasikan menjadi kesadaran kolektif rakyat dan berhasil menjadi benih lahirnya nasionalisme Indonesia. Pada akhirnya, nasionalisme, sebuah ideologi yang bersumber dari Barat dan semula tidak dikenal di kalangan rakyat terjajah kemudian diyakini menjadi dasar, semangat dan nafas perlawanan terhadap pemerintah kolonial sampai terwujudnya kemerdekaan. Namun kenyataan sejarah itu tidak lantas menyelesaikan polemik, kritik dan kontroversi yang menyelimuti nasionalisme, bahkan perdebatan itu terus berlangsung sampai saat ini. Bahkan bagi generasi baru, nasionalisme dirasakan lebih banyak menghadirkan segudang pertanyaan daripada segumpal jawaban terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi rakyat. Pertanyaan-pertanyaan itu muncul ketika melihat perkembangan dunia yang semakin menempatkan ideologi, termasuk nasionalisme ke dalam liang kubur sejarah dan lebih mengedepankan pragmatisme dalam bidang ekonomi-politik.

Di sisi lain, perkembangan masyarakat dunia sangat dinamis. Konflik ideologi yang pernah terjadi secara sengit, dipandang telah usai dengan keruntuhan komunisme. Keruntuhan itu sekaligus sebagai simbol kelahiran mazhab baru yang sering disebut sebagai the end of ideology serta mengawali era globalisasi yang nyaris menguburkan eksitensi negara bangsa. Sebagaimana dikemukakan Kenichi Ohmae, fungsi negara bangsa yang memiliki ciri wilayah, struktur kekuasaan impersonal, legitimasi dan kontrol terhadap kekerasan mulai menyurut dilindas oleh kepentingan-kepentingan kapitalisme global melalui instrumennya yaitu berbagai lembaga internasional dan perusahaan transnasional. Keberadaan bangsa semakin kabur dan tidak bermakna. Bangsa, mengutip definisi Benedict R. Anderson sebagai komunitas yang terbayang dan dipersatukan oleh nilai-nilai dan lembaga-lembaga yang diimajinasikan bersama, mulai goyah tatkala muncul nilai-nilai dan lembaga-lembaga baru yang merusak imajinasi kolektif tersebut.

Melihat fenomena itu, pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah makna nasionalisme pada masa sekarang? Saat ini kita telah kehilangan memori kolektif sebagai satu bangsa. Kekuasaan otoriter di masa silam memiliki andil besar dalam menghancurkan memori kolektif itu. Proyek reformasi yang meletup-letup telah membiaskan pertikaian di antara masyarakat. Konflik antar masyarakat sebagai ekses perubahan dalam bingkai demokratisasi telah banyak terjadi di berbagai tempat. Semua itu menyiratkan bangsa ini secara perlahan telah kehilangan perekat dalam satu kesatuan entitas kebangsaan. Karena itu, harus ada perubahan paradigma dalam memandang nasionalisme. Kehadiran nasionalisme menjadi hal penting di tengah serbuan gelombang kapitalisme global dan makna ideologi yang semakin abstrak. Hanya saja, nasionalisme harus dipandang bukan sebagai jawaban atas segala persoalan namun justru menjadi bagian dari persoalan yang memerlukan penyelesaian secara kolektif.

Hal yang semestinya dilakukan adalah menumbuhkan kesadaran bahwa potensi yang dimiliki bangsa ini hanya akan dapat berkembang dan bermanfaat bagi rakyat jika terjadi sinergisasi dari berbagai kekuatan pluralistik yang telah mengkonstruksi bangsa ini. Karena itu, diperlukan upaya untuk menumbuhkan sinergi kolektif yang memungkinkan segenap elemen bangsa ini menjalani lagi “satu sejarah” dan memberdayakan kekuatan sosial sebagai jalan mewujudkan kesatuan, kebebasan, kesamaan dan keadilan. Dalam konteks itu, tidak ada satu kelompok pun yang dapat menjadi “hero” dengan menganggap dirinya sebagai satu-satunya pihak yang mampu menyelesaikan problem besar bangsa. Peran dan partisipasi semua elemen rakyat menjadi penting dalam penyelesaian problem rakyat dan bangsa. Dengan demikian, ruang untuk melakukan dialog-dialog secara demokratis di antara segenap elemen rakyat perlu di kembangkan dan dibuka secara lebar. Bukan untuk memperlebar konflik, namun dalam kerangka bersama-sama melakukan perubahan dan menyelesaikan problem bangsa secara rasional dan dewasa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: