Bahasa Gaul dan Revolusi Kebudayaan

gaul11thumbnail.jpg

Ada suatu peristiwa menarik ketika saya dan beberapa kawan mahasiswa berada dikampus sedang berbincang dengan seorang dosen dan tiba-tiba ditengah perbincangan terdengar satu kalimat yang sebenarnya sangat populer tetapi ganjil juga didengar, “So what gitu lho, Pak”. Anehkah ini? Ataukah ini sekedar masalah selera berbahasa? Selera kenyamanan, keinstanan, atau popularitas bahasa?

*******

Memahami gerak manusia dari bahasa, bisa saja dilakukan. Akan tetapi, tidak sedikit orang yang terlalu cepat mengambil kesimpulan dari gerak bahasa orang lain. Hal ini dapat terjadi karena intensitas waktu komunikasi yang singkat, pemilihan kata yang kurang pas atau bahkan sangat pas, juga karena media berkomunikasi yang kompleks.

Setiap gerak, adalah reaksi dari keadaan. Yang sering terjadi adalah kebingungan kita membahasakan reaksi gerak. Maka, posisi bahasa dalam hal ini sama penting dengan posisi reaksi dan gerak. Alih-alih, bahasa menjadi hal yang substansial untuk memaknai setiap tindakan. Baik itu tindakan yang dirasakan langsung maupun tidak langsung pengaruhnya.

Sebagai contoh riil. Ketika kita menyimak satu berita, baik itu berita di media cetak maupun elektronik. Sering kali terjadi, ketika kita dimintai tolong untuk menceritakan kembali isi berita, akan ada saja bagian yang luput dari cerita kita dengan isi berita. Terlepas dari inti pesan berita yang hendak disampaikan. Karena, kebiasaan kita yang sering mengerucutkan satu permasalahan (sifatnya subjektif)

Ada baiknya, jika pengkerucutan yang dimaksud sesuai dengan tujuan berita. Tapi, tidak menutup kemungkinan bagian yang terlupakan justru adalah kunci berita, yang akhirnya mengaburkan maksud serta tujuan pesan. Hal ini yang kita sebut sebagai reduksi bahasa. Dan segala sesuatu yang direduksi, tidak selalu sama dengan keadaan awal. Tapi adakalanya juga reduksi bahasa mampu menjadi tafsiran dari makna yang dikandung.

Kaitannya dengan bahasa, kita sering mendengar populernya bahasa-bahasa yang tidak sedikit membuat kita mengerutkan dahi saat mendengarnya. Permasalahannya, bukan pada pantas atau tidak pantas (sopan dan tidak sopan), faham atau tidak faham. Tapi, pada konteks kapan bahasa itu mestinya diungkapkan, yang kita fahami hanya sebatas ungkapan ringan yang selalu wajar digunakan kapan saja.

Bahasa-bahasa populer yang banyak dikonsumsi tidak hanya oleh kalangan Anak Baru Gede (ABG) juga acap kali di simak oleh orang dewasa. Seperti maraknya bahasa sinetron yang bercerita tentang dunia remaja (khususnya di Jakarta). Karena kemajuan dunia informasi, menjadikannya banyak dikonsumsi oleh semua kalangan pencinta sinetron di seluruh pelosok negeri. Dan Balikpapan, dalam hal ini tidak pernah luput dari kemajuan dunia hiburan pertelevisian nasional maupun lokal.

‘So what gitu lho ?’. ‘Please dong ah’ atau ‘please deh’. ‘OMG’ (Singkatan dari oh my god) ‘Rasanya gimana gicu’. ‘Capee dee’. Dan serangkaian bahasa yang sedang populer di gunakan. Merambah, membentuk satu kebiasaan berbahasa dan sering kali akrab ditelinga kita. Hebatnya, kita menjadi konsumen yang baik dalam hal mengadopsi istilah-istilah yang acap kali di pakai oleh aktor. Malah, kita cendrung lebih hebat dalam mengekspresikan bahasa, dalam hal ini over action.

Sehingga tidak heran, penulis pribadi sering merasa geli mendengar istilah-istilah ini di pergunakan dalam konteks yang kontra dengan keadaan (media ekspresi bahasa). Ataukah, telinga kita yang harus sering dilatih untuk beradaptasi? Karena, tidak menutup kemungkinan, suatu saat kita akan sering menggunakan istilah-istilah bahasa populer itu.

Ada beberapa hal yang dapat disimpulkan dari realitas berbahasa kita, khususnya gaya berbahasa kaum muda yang banyak mengadopsi bahasa sinetron. Pertama, kurangnya nalar artikulasi bahasa daerah yang kita miliki sebagai anak daerah. Baik secara personal (basic ide) maupun komunal (penguatan ide). Sehingga, kemajuan teknologi komuikasi yang bersifat sentralistik seringkali mentransformasikan budaya sentral untuk dikonsumsi daerah lain. Sehingga, seringkali terjadi percampuran budaya yang justru berdampak pada termarjinalnya budaya asli. Maka, pentingnya nalar artikulasi bahasa daerah akan memudahkan kita untuk lebih banyak mengekspresikan budaya sendiri.

Kedua, kita belum tegas menentukan posisi indra dalam mengkonsumsi proyek teknogi. Hanya sebagai penikmat yang “baik” tanpa mampu mengkritisinya. Masih latah meniru setiap geliat yang dipandang sebagai sesuatu yang baru. Pergeseran-pergeseran dari segi berbahasa ini, sesungguhnya mampu menjadi motor penggerak perubahan, baik pada sikap prilaku dalam pergaulan sehari-hari, menjadi identitas seseorang (anak gaul, funky, supel), karena bahasa adalah salah satu dari komponen perubahan.

Maka, kesimpulannya setiap orang berhak untuk mengkreasikan bahasa menjadi sepopuler mungkin (seperti Debby Sahartian dengan Kamus Gaulnya), tanpa harus selalu latah meniru bahasa populer sinetron, karena perbendaharaan bahasa daerah kitapun kaya untuk di kombinasikan menjadi bahasa gaul yang nyaman untuk di ekspresikan dalam pergaulan sehari-hari, sehingga kita tidak selalu kehilangan identitas personal dalam laju kemajuan teknologi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: