Apakah Anda merasa sebagai Nasionalis (orang Indonesia?)
Sejak kapan Anda -merasa- memiliki dan menjadi orang Indonesia?
Apa artinya Indonesia bagi Anda?
Sebuah nama, sebuah tempat, sebuah wilayah?
Sebuah ruh yang selalu hadir dalam setiap tarikan nafas, setiap tindak dan langkah sampai pula kita bawa ke liang lahat?
Ataukah, Indonesia seperti yang tertera di KTP sebagai bukti kewarganegaraan?
Arsip untuk nasionalisme kategori
Salah Tafsir Nasionalisme
Posted in nasionalisme on Januari 9, 2008 by solindoBAYANG-BAYANG NASIONALISME INDONESIA
Posted in nasionalisme on Januari 9, 2008 by solindoDi tengah zaman yang sedang berubah ke arah pragmatisme yang menihilkan ideologi, berbicara mengenai nasionalisme menjadi salah satu perbincangan menarik dalam menyikapi peringatan Hari Pahlawan 10 Nopember. Nasionalisme dari hari ke hari dirasakan semakin absurd. Absurditas ideologi memang tidak hanya menerpa nasionalisme. Namun, hanya nasionalismelah yang sejak kelahirannya mengandung kontroversi dan ironi. Harus diakui secara jujur, nasionalisme bukanlah ideologi yang dilahirkan dari Bangsa Indonesia. Ideologi itu pertamakali muncul dari kawasan Eropa Barat. Pada awal kemunculannya, nasionalisme selalu dikaitkan dengan pencerahan yang melatarbelakangi hadirnya negara bangsa modern, namun dalam perjalanannya, gagasan itu justru membawa kegelapan bagi bangsa-bangsa di Asia, Afrika dan Amerika Selatan ketika kehadirannya bermanifestasi dalam wujud kolonialisme-imperialisme.
Memahami Makna Pembukaan UUD’ 45
Posted in nasionalisme on Januari 9, 2008 by solindoBung Karno : Declaration of Independence kita, yaitu Pembukaan Undang-Undang Dasar ’45, memberikan pedoman-pedoman tertentu untuk mengisi kemerdekaan nasional kita, untuk melaksanakan ke Negaraan kita, untuk mengetahui tujuan dalam memperkembangkan kebangsaan kita, untuk setia kepada suara-batin yang hidup dalam kalbu rakyat kita. ………………“Proklamasi” tanpa “Declaration” berarti bahwa kemerdekaan kita tidak mempunyai falsafah. Tanpa mempunyai Dasar Penghidupan Nasional, tidak mempunyai pedoman, tidak mempunyai arah, tidak mempunyai “raison d’etre”, tidak mempunyai tujuan selain daripada mengusir kekuasaan asing dari bumi “Ibu Pertiwi”. (DBR II – 442)