<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Soekarno dan Gelora Anti Imperialisme/Neo-Kolonialisme Rakyat Indonesia</title>
	<atom:link href="http://solindo.wordpress.com/2008/01/09/27/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://solindo.wordpress.com/2008/01/09/27/</link>
	<description>Mewujudkan Kemerdekaan Sejati Menuju Sosialisme Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 11 May 2009 18:55:22 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: nyangnulis</title>
		<link>http://solindo.wordpress.com/2008/01/09/27/#comment-114</link>
		<dc:creator>nyangnulis</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Mar 2009 09:50:19 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://solindo.wordpress.com/2008/01/09/27/#comment-114</guid>
		<description>saatnya pemikiran soekarno menjadi topik yang wajib untuk kita pertimbangkan.....!!!!!
generasi muda sekarang adalh generasi yang akan membawa indonesia menjadi negara yang bisa menguasai dunia.!!!!!
dengan atitude khas bangsa indonesia yang ramah,genius,berani dan jujur,pasti negara ad daya pun merasa segan dan tidak akan meremehkan lagi bangsa indonesia.!!!!!!!
jika kita cerdas,jika kita peduli,jika kita berani,kita mampu!!! INDONESIA BISA!!!!!!!!!!!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saatnya pemikiran soekarno menjadi topik yang wajib untuk kita pertimbangkan&#8230;..!!!!!<br />
generasi muda sekarang adalh generasi yang akan membawa indonesia menjadi negara yang bisa menguasai dunia.!!!!!<br />
dengan atitude khas bangsa indonesia yang ramah,genius,berani dan jujur,pasti negara ad daya pun merasa segan dan tidak akan meremehkan lagi bangsa indonesia.!!!!!!!<br />
jika kita cerdas,jika kita peduli,jika kita berani,kita mampu!!! INDONESIA BISA!!!!!!!!!!!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: andreas iswinarto</title>
		<link>http://solindo.wordpress.com/2008/01/09/27/#comment-92</link>
		<dc:creator>andreas iswinarto</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Sep 2008 04:41:59 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://solindo.wordpress.com/2008/01/09/27/#comment-92</guid>
		<description>Jejak Langkah Sebuah Bangsa, Sebuah Nation

Tak mungkin orang dapat mencintai negeri dan bangsanya, 
kalau orang tak mengenal kertas-kertas tentangnya. 
Kalau dia tak mengenal sejarahnya. 
Apalagi kalau tak pernah berbuat sesuatu kebajikan untuknya,” 

-Minke, dalam Novel Jejak Langkah karya Pramoedya Ananta Toer- 
Dikutip Kompas di tulisan  pembuka liputan khusus Anjer-Panarukan 
  
Saya memberikan apresiasi yang besar kepada Koran Kompas dan juga kalangan pers pada umumnya yang secara intens dan kental mendorong munculnya kesadaran historis sekaligus harapan dan optimisme akan masa depan Indonesia.  Mempertautkan makna  masa lalu, masa kini dan masa depan. Ini nampak paling tidak  sejak bulan Mei secara rutin Kompas memuat tulisan wartawan-wartawan seniornya dan mungkin beberapa orang non wartawan kompas bertajuk 100 Tahun Kebangkitan Nasional . Patut diapresiasi pula liputan besar Kompas “Ekspedisi 200 Tahun Jalan Pos Anjer-Panaroekan”. 
  
Daniel Dhakidae yang juga menjadi salah satu penulis seri 100 Tahun Kebangkitan Nasional Kompas ini pernah mengatakan bahwa “sejarah bukan masa lalu akan tetapi juga masa depan dengan menggenggam kuat kekinian sambil memperoyeksikan dirinya ke masa lalu. Warisan tentu saja menjadi penting terutama warisan yang menentukan relevansi kekinian. Apa yang dibuat disini adalah melepaskan penjajahan masa kini terhdap masa lalu dan memeriksa kembali masa lalu dan dengan demikian membuka suatu kemungkinan menghadirkan masa lalu dan masa depan dalam kekinian”. (Cendekiawan dan Kekuasaan : Dalam Negara Orde Baru; Gramedia Pustaka Utama, 2003, hal xxxii) 
  
Dalam bukunya itu contoh gamblang diperlihatkan oleh Dhakidae, dimana  sebelum sampai pada bahasan masa Orde Baru ia melakukan pemeriksaaan wacana politik etis sebagai resultante pertarungan modal, kekuasaan negara kolonial, dan pertarungan kebudayaan antara Inlander vs Nederlander, antara boemipoetra dan orang Olanda. Baginya zaman kolonial menjadi penting bukan semata sebagai latarbelakang, akan tetapi wacana itu begitu menentukan yang dalam arti tertentu bukan saja menjadi pertarungan masa lalu akan tetapi masa kini. 
  
Kompas saya pikir telah mengerjakan ini dengan sangat baik dan saya mendapatkan pencerahan dari sana (o iya Bung Daniel adalah juga kepala litbang Kompas) 
  
Untuk meningkatkan akses publik ke seluruh tulisan-tulisan berharga ini, saya menghimpun link seri artikel Kompas bertajuk 100 Tahun Kebangkitan Nasional ini.  Sebelumnya saya juga telah menghimpun link seri liputan Kompas Ekspedisi 200 Tahun Jalan Raya Pos Anjer-Panaroekan : Jalan (untuk) Perubahan. 
  
Demikian juga saya telah menghimpun link-link ke artikel-artikel Edisi Khusus Kemerdekaan Majalah Tempo tentang Tan Malaka “BAPAK REPUBLIK YANG DILUPAKAN. Sebagai catatan tulisan tentang Tan Malaka juga ada di dalam seri tulisan Kompas seputar 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Apresiasi tinggi pula untuk Majalah Tempo. 
  
Akhir kata secara khusus saya menaruh hormat kepada Pramoedya Ananta Toer yang telah menjadi ‘guru sejarah’ saya melalui karya-karya sastra dan buku-buku sejarah yang ditulisnya. Saya pikir bukan sebuah kebetulan Kompas mengutip roman Jejak Langkah sebagai pengantar liputan khususnya, juga dari buku Pram Jalan Raya Pos, Jalan Daendels- “Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain”. 
  
Tidak lain juga sebuah penghormatan kalau tidak  pengakuan terhadap sumbangan Pram untuk negeri ini. Diakui atau tidak. 
  
Salam Pembebasan 
Andreas Iswinarto 
  
Untuk seri tulisan 100 Tahun Kebangkitan Nasional 
Kipling, Ratu Wilhelmina, dan Budi Utomo; Renaisans Asia Lahirkan Patriotisme Bangsa-bangsa; Semangat Kebangsaan yang Harus Terus Dipelihara; Menemukan Kembali Boedi Oetomo; Ideologi Harga Mati, Bukan Harta Mati; Pohon Rimbun di Tanah yang Makin Gembur; Mencari Jejak Pemikiran Hatta; Membangun Bangsa yang Humanis; Tan Malaka dan Kebangkitan Nasional; Kaum Cerdik Pandai, antara Ilmu dan &quot;Ngelmu&quot;; Masa Depan &quot;Manusia Indonesia&quot;-nya Mochtar Lubis, Menolak Kutukan Bangsa Kuli; Pendidikan dan Pemerdekaan; Kembali ke PR Gelombang Ketiga; Kebudayaan dan Kebangsaan; Musik Pun Menggugah Kebangsaan... 
  
Silah link ke 
http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/09/jejak-langkah-sebuah-bangsa-sebuah.html 
  
Ekspedisi Kompas 200 Tahun Anjer-Panaroekan 
http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/09/belajar-dari-sejarah-sebuah-jalan-200.html 
  
Edisi Kemerdekaan Tempo dan 12 buku online : Tan Malaka 
http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/09/tan-malaka-bapak-republik-revolusi.html</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Jejak Langkah Sebuah Bangsa, Sebuah Nation</p>
<p>Tak mungkin orang dapat mencintai negeri dan bangsanya,<br />
kalau orang tak mengenal kertas-kertas tentangnya.<br />
Kalau dia tak mengenal sejarahnya.<br />
Apalagi kalau tak pernah berbuat sesuatu kebajikan untuknya,” </p>
<p>-Minke, dalam Novel Jejak Langkah karya Pramoedya Ananta Toer-<br />
Dikutip Kompas di tulisan  pembuka liputan khusus Anjer-Panarukan </p>
<p>Saya memberikan apresiasi yang besar kepada Koran Kompas dan juga kalangan pers pada umumnya yang secara intens dan kental mendorong munculnya kesadaran historis sekaligus harapan dan optimisme akan masa depan Indonesia.  Mempertautkan makna  masa lalu, masa kini dan masa depan. Ini nampak paling tidak  sejak bulan Mei secara rutin Kompas memuat tulisan wartawan-wartawan seniornya dan mungkin beberapa orang non wartawan kompas bertajuk 100 Tahun Kebangkitan Nasional . Patut diapresiasi pula liputan besar Kompas “Ekspedisi 200 Tahun Jalan Pos Anjer-Panaroekan”. </p>
<p>Daniel Dhakidae yang juga menjadi salah satu penulis seri 100 Tahun Kebangkitan Nasional Kompas ini pernah mengatakan bahwa “sejarah bukan masa lalu akan tetapi juga masa depan dengan menggenggam kuat kekinian sambil memperoyeksikan dirinya ke masa lalu. Warisan tentu saja menjadi penting terutama warisan yang menentukan relevansi kekinian. Apa yang dibuat disini adalah melepaskan penjajahan masa kini terhdap masa lalu dan memeriksa kembali masa lalu dan dengan demikian membuka suatu kemungkinan menghadirkan masa lalu dan masa depan dalam kekinian”. (Cendekiawan dan Kekuasaan : Dalam Negara Orde Baru; Gramedia Pustaka Utama, 2003, hal xxxii) </p>
<p>Dalam bukunya itu contoh gamblang diperlihatkan oleh Dhakidae, dimana  sebelum sampai pada bahasan masa Orde Baru ia melakukan pemeriksaaan wacana politik etis sebagai resultante pertarungan modal, kekuasaan negara kolonial, dan pertarungan kebudayaan antara Inlander vs Nederlander, antara boemipoetra dan orang Olanda. Baginya zaman kolonial menjadi penting bukan semata sebagai latarbelakang, akan tetapi wacana itu begitu menentukan yang dalam arti tertentu bukan saja menjadi pertarungan masa lalu akan tetapi masa kini. </p>
<p>Kompas saya pikir telah mengerjakan ini dengan sangat baik dan saya mendapatkan pencerahan dari sana (o iya Bung Daniel adalah juga kepala litbang Kompas) </p>
<p>Untuk meningkatkan akses publik ke seluruh tulisan-tulisan berharga ini, saya menghimpun link seri artikel Kompas bertajuk 100 Tahun Kebangkitan Nasional ini.  Sebelumnya saya juga telah menghimpun link seri liputan Kompas Ekspedisi 200 Tahun Jalan Raya Pos Anjer-Panaroekan : Jalan (untuk) Perubahan. </p>
<p>Demikian juga saya telah menghimpun link-link ke artikel-artikel Edisi Khusus Kemerdekaan Majalah Tempo tentang Tan Malaka “BAPAK REPUBLIK YANG DILUPAKAN. Sebagai catatan tulisan tentang Tan Malaka juga ada di dalam seri tulisan Kompas seputar 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Apresiasi tinggi pula untuk Majalah Tempo. </p>
<p>Akhir kata secara khusus saya menaruh hormat kepada Pramoedya Ananta Toer yang telah menjadi ‘guru sejarah’ saya melalui karya-karya sastra dan buku-buku sejarah yang ditulisnya. Saya pikir bukan sebuah kebetulan Kompas mengutip roman Jejak Langkah sebagai pengantar liputan khususnya, juga dari buku Pram Jalan Raya Pos, Jalan Daendels- “Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain”. </p>
<p>Tidak lain juga sebuah penghormatan kalau tidak  pengakuan terhadap sumbangan Pram untuk negeri ini. Diakui atau tidak. </p>
<p>Salam Pembebasan<br />
Andreas Iswinarto </p>
<p>Untuk seri tulisan 100 Tahun Kebangkitan Nasional<br />
Kipling, Ratu Wilhelmina, dan Budi Utomo; Renaisans Asia Lahirkan Patriotisme Bangsa-bangsa; Semangat Kebangsaan yang Harus Terus Dipelihara; Menemukan Kembali Boedi Oetomo; Ideologi Harga Mati, Bukan Harta Mati; Pohon Rimbun di Tanah yang Makin Gembur; Mencari Jejak Pemikiran Hatta; Membangun Bangsa yang Humanis; Tan Malaka dan Kebangkitan Nasional; Kaum Cerdik Pandai, antara Ilmu dan &#8220;Ngelmu&#8221;; Masa Depan &#8220;Manusia Indonesia&#8221;-nya Mochtar Lubis, Menolak Kutukan Bangsa Kuli; Pendidikan dan Pemerdekaan; Kembali ke PR Gelombang Ketiga; Kebudayaan dan Kebangsaan; Musik Pun Menggugah Kebangsaan&#8230; </p>
<p>Silah link ke<br />
<a href="http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/09/jejak-langkah-sebuah-bangsa-sebuah.html" rel="nofollow">http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/09/jejak-langkah-sebuah-bangsa-sebuah.html</a> </p>
<p>Ekspedisi Kompas 200 Tahun Anjer-Panaroekan<br />
<a href="http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/09/belajar-dari-sejarah-sebuah-jalan-200.html" rel="nofollow">http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/09/belajar-dari-sejarah-sebuah-jalan-200.html</a> </p>
<p>Edisi Kemerdekaan Tempo dan 12 buku online : Tan Malaka<br />
<a href="http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/09/tan-malaka-bapak-republik-revolusi.html" rel="nofollow">http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/09/tan-malaka-bapak-republik-revolusi.html</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: bayu aji</title>
		<link>http://solindo.wordpress.com/2008/01/09/27/#comment-55</link>
		<dc:creator>bayu aji</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 May 2008 07:10:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://solindo.wordpress.com/2008/01/09/27/#comment-55</guid>
		<description>we could never be a soekarno until we have faced dangereous is same like soekarno felt..tak ada soekarno lagi...yang ada hanya ajarannya dan itupun penuh berbagai tafsiran belaka..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>we could never be a soekarno until we have faced dangereous is same like soekarno felt..tak ada soekarno lagi&#8230;yang ada hanya ajarannya dan itupun penuh berbagai tafsiran belaka..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: adyaksa</title>
		<link>http://solindo.wordpress.com/2008/01/09/27/#comment-19</link>
		<dc:creator>adyaksa</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 01 May 2008 05:19:30 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://solindo.wordpress.com/2008/01/09/27/#comment-19</guid>
		<description>Kalau saja soekarno masih ada mungkin negara-negara lain tidak akan mengolok-olok indonesia ataupun melecehkannya.
Tapi tunggu saja akan tiba saatnya soekarno muda memipin negara nusantara ini..!!!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau saja soekarno masih ada mungkin negara-negara lain tidak akan mengolok-olok indonesia ataupun melecehkannya.<br />
Tapi tunggu saja akan tiba saatnya soekarno muda memipin negara nusantara ini..!!!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: ketoprak humor</title>
		<link>http://solindo.wordpress.com/2008/01/09/27/#comment-18</link>
		<dc:creator>ketoprak humor</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 28 Apr 2008 08:15:36 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://solindo.wordpress.com/2008/01/09/27/#comment-18</guid>
		<description>ah itu sih kata orang dulu sekarang kan duit... mau pilih sukarno kek, suharto. kek kami mah tetap ndak bisa makan sekarang makin susah aja.

kalau mau nulis yang panjang sekalian....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ah itu sih kata orang dulu sekarang kan duit&#8230; mau pilih sukarno kek, suharto. kek kami mah tetap ndak bisa makan sekarang makin susah aja.</p>
<p>kalau mau nulis yang panjang sekalian&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: tjoekjegegtantri</title>
		<link>http://solindo.wordpress.com/2008/01/09/27/#comment-8</link>
		<dc:creator>tjoekjegegtantri</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 24 Feb 2008 05:27:02 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://solindo.wordpress.com/2008/01/09/27/#comment-8</guid>
		<description>Kehancuran Industri Nasional, dan dominasi kuat modal asing di semua sector kehidupan ekonomi betul-betul telah menempatkan bangsa Indonesia tidak ubahnya “Bangsa kuli”. Mentalitas korup dan keinginan memperkaya diri sendiri ditengah kemelaratan dan kemiskinan missal yang melanda lebih dari separuh penduduk negeri ini, sudah menjadi budaya pejabat di negeri ini.

Oleh karenanya lewat PPPI, kami akan memperjuangkannya!!!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kehancuran Industri Nasional, dan dominasi kuat modal asing di semua sector kehidupan ekonomi betul-betul telah menempatkan bangsa Indonesia tidak ubahnya “Bangsa kuli”. Mentalitas korup dan keinginan memperkaya diri sendiri ditengah kemelaratan dan kemiskinan missal yang melanda lebih dari separuh penduduk negeri ini, sudah menjadi budaya pejabat di negeri ini.</p>
<p>Oleh karenanya lewat PPPI, kami akan memperjuangkannya!!!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Wibowo Purnomohadi</title>
		<link>http://solindo.wordpress.com/2008/01/09/27/#comment-6</link>
		<dc:creator>Wibowo Purnomohadi</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 12 Feb 2008 04:53:26 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://solindo.wordpress.com/2008/01/09/27/#comment-6</guid>
		<description>Sukarno muda akan bangkit lagi manakala buah pemikiran dan ide dasar sukarno tua membumi, dan menjadi bahan kajian tiap hari ibarat sarapan di pagi hari sebanding dengan susu dan telor saja.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sukarno muda akan bangkit lagi manakala buah pemikiran dan ide dasar sukarno tua membumi, dan menjadi bahan kajian tiap hari ibarat sarapan di pagi hari sebanding dengan susu dan telor saja.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
